Layanan Dasar Bimbingan Konseling untuk Mencegah Perundungan

Oleh : Muries Subiyantoro

Guru BK SMPN 1 Magetan, Pegiat Demokrasi, dan Penggagas LoGoPoRI (Local Government and Political Research Institute) Magetan

 

 

Salah satu isu sosial yang sering terjadi di kalangan peserta didik, khususnya usia remaja atau jenjang SMP dan sederajat adalah perundungan. Perundungan bukan isu sepele, yang bisa terselesaikan dengan cepat setelah perundungan terjadi. Isu ini seharusnya bahkan tidak terjadi di satuan pendidikan kita, atau dimanapun di situasi sosial. Lalu apa yang bisa kita, sebagai guru Bimbingan Konseling, wali kelas atau satuan pendidikan lakukan?

 

Pentingnya Pemetaan dan Analisis

Hal pertama yang perlu kita lakukan sebagai pendidik adalah memetakan dan menganalisis kebutuhan peserta didik agar kita dapat memberikan layanan dasar yang tepat sesuai kebutuhan. Untuk memetakan kebutuhan peserta didik, yang pertama perlu dilakukan adalah menentukan aspek atau hal apa yang ingin kita ketahui. Lalu kita menentukan cara atau metode yang akan kita gunakan untuk mengumpulkan informasi.

Dalam kasus perundungan, aspek utama yang perlu diperhatikan adalah perilaku peserta didik. Jam istirahat seringkali menjadi waktu untuk peserta didik berkegiatan tanpa diawasi oleh orang dewasa. Dan ini menjadi kesempatan terjadinya konflik sosial di antara peserta didik, Sebagai guru Bimbingan Konseling, sebaiknya bisa menggunakan waktu istirahat untuk mengamati perilaku dan interaksi sosial peserta didik di luar konteks kelas. Hasil pengamatan akan bisa di catat di buku catatan, baik dari situasi, ekspresi, bahasa tubuh, serta bentuk interaksi yang terjadi.

Untuk mencegah situasi perundungan terjadi pada peserta didik, satuan pendidikan perlu membuat kegiatan layanan dasar mengenali perundungan. Dalam suatu peristiwa perundungan, terdapat 3 (tiga) pihak yang terlibat, yaitu pelaku, korban, dan bystander atau penonton. Pertanyaannya, apakah peserta didik kita tahu apa itu perundungan, siapa saja pihak yang terlibat, dan apa yang harus ia lakukan di situasi tersebut?

Selain pengamatan atau observasi, kita dapat menggunakan survey atau kuesioner untuk mendapatkan informasi dari lebih banyak peserta didik. Kita perlu menyusun pertanyaan yang tepat untuk bisa mendapatkan informasi yang kita inginkan dari survey atau kuesioner. Misalnya, apa yang kamu ketahui tentang perundungan/bullying? Orang seperti apa yang menurutmu rentan menjadi pelaku perundungan? Orang seperti apa yang menurutmu rentan menjadi korban perundungan? Apa yang kamu ketahui tentang bystander? Perilaku seperti apa yang menurutmu adalah tindakan perundungan? Dan pertanyaan-pertanyaan lain seputar perundungan yang bisa digali dari peserta didik.

Berikutnya, guru Bimbingan Konseling bisa mendiskusikan dengan pimpinan sekolah dan guru wali kelas serta guru kelas, kapan kuesioner ini dapat dilakukan dan berapa lama durasi yang dibutuhkan. Pada saat membagikan kuesioner, informasikan kepada peserta didik untuk menjawab sejujur-jujurnya dan tidak perlu menuliskan nama. Peserta didik biasanya akan lebih terbuka apabila tidak ada tekanan atau anonim. Dari jawaban-jawaban kuesioner ini, kita akan mengetahui apa yang peserta didik ketahui seputar perundungan. Data tersebut dapat kita gunakan untuk menentukan program selanjutnya. Data yang telah dikumpulkan lalu diolah, dianalisis dan diinterpretasi oleh guru Bimbingan Konseling untuk memperoleh identifikasi kebutuhan, masalah dan konteks program yang tepat. Hasil identifikasi ini dapat kita gunakan untuk menyusun rencana program dan rencana aksi selanjutnya. Sekarang, bagaimana cara menyusun rencana layanan dasar sesuai kebutuhan?

Berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan peserta didik terkait isu perundungan. Guru Bimbingan Konseling perlu mengidentifikasi kebutuhan pemahaman lebih lanjut. Dengan contoh topik sebagai berikut: Pertama, arti perundungan dan perbedaan antara perundungan dan konflik. Kedua, indikator terjadinya perundungan dan siapa pihak yang terlibat dalam perundungan. Ketiga, dampak perundungan dan bagaimana menanganinya. Keempat, cara menghadapi konflik. Kelima, cara mencegah terjadinya perundungan di sekolah dan di rumah. Keenam, apa yang harus dilakukan bila mengalami atau melihat perundungan yang terjadi. Dari daftar topik ini, guru Bimbingan Konseling bisa mengusulkan kepada kepala satuan pendidikan dan guru wali kelas serta guru kelas untuk mengintegrasikan topik tertentu dalam projek profil. Misalnya, topik cara menghadapi konflik, cara mencegah perundungan, dan apa yang harus dilakukan apabila mengalami atau melihat perundungan. Dapat di tindak lanjuti sebagai salah satu topik projek profil dengan tema “Suara Demokrasi” atau “Bangunlah Jiwa dan Raga”, dimana peserta didik dapat terlibat aktif dalam berkontribusi untuk mengurai isu perundungan di satuan pendidikan.

 

Pendekatan Layanan Dasar

Selanjutnya guru Bimbingan Konseling perlu menetukan pendekatan apa yang akan digunakan agar kegiatan layanan dasar dapat lebih bermakna. Misalnya, apakah akan mengadakan pelatihan, sosialisasi, kegiatan interaktif, atau metode lain? Lalu, untuk siapa sasaran kegiatan tersebut ditujukan? Apakah untuk peserta didik?, orangtua? per kelas? atau per fase? Apakah per kelas atau untuk semua peserta didik di fase yang sama?

Mengapa metode dan sasaran perlu ditentukan di awal? Karena kita ingin semua kegiatan layanan dasar dapat bermakna dan berdampak. Metode dan sasaran tersebut nantinya akan membantu kita menentukan pendekatan yang tepat untuk digunakan. Untuk menentukan pendekatan yang paling tepat untuk usia peserta didik di SMP atau usia remaja, kita perlu memahami tahap perkembangan mereka terlebih dahulu. Di tahap usia remaja ini, mereka sedang mengalami perubahan khususnya secara fisik, dan juga perubahan hormonal yang menyebabkan emosi mereka mudah berubah.

Mereka sedang berada pada tahap mencari jati diri atau berusaha mengenali diri mereka sendiri, mempertanyakan eksistensi mereka di lingkungan sosial dan mengeksplorasi banyak hal di sekitar mereka. Teman menjadi hal yang paling mempengaruhi hidup peserta didik usia SMP, dibandingkan dengan keluarga. Hal ini bisa kita lakukan sebagai salah satu pendekatan pada kelas pembekalan peserta didik, dengan merancang kegiatan berupa pelatihan yang melibatkan peserta didik dalam kerja kelompok. Kerja kelompok yang dimaksud bisa berupa diskusi, proses riset bersama untuk mengidentifikasi suatu isu, atau membuat suatu produk visual untuk menyampaikan hasil diskusi.

Sedangkan untuk kelas orangtua, bisa menggunakan pendekatan yang sama dengan peserta didik dan sangat tergantung tujuan kegiatannya. Apabila tujuan kita untuk meberikan sederet informasi atau menjelaskan suatu hal yang sudah ditentukan oleh satuan pendidikan, metode yang dapat dilakukan adalah seminar atau sosialisasi dimana pemberian informasi terjadi satu arah. Selain itu, orangtua bisa berinteraksi dan menjalin hubungan dengan satu sama lain, dengan menggunakan metode berbentuk workshop atau pelatihan dengan kombinasi antara pemberian informasi satu arah dan dilanjutkan dengan kerja kelompok. Apa yang bisa dilakukan dalam kerja kelompok tersebut? Orangtua dalam kelompoknya dapat membuat kesepakatan bersama bagi para orangtua untuk memberantas perundungan, membuat presentasi visual seperti poster untuk mengkampanyekan program anti perundungan atau kegiatan lainnya yang dapat mendekatkan hubungan antar orangtua. Hubungan orangtua yang baik, akan berdampak positif dengan hubungan antar anak-anaknya. Karena orang tua secara tidak langsung mencontohkan kepada anak-anaknya bagaimana menjalin hubungan yang sehat dengan orang lain.

 

Evaluasi dan Refleksi

Setelah proses kegiatan layanan dasar dilakukan, guru Bimbingan Konseling perlu melakukan evaluasi dan refleksi. Mengapa evaluasi dan refleksi perlu dilakukan? Siklus tahapan layanan dasar akan di ulangi lagi di tahun ajaran depan. Oleh karena itu, setelah siklus program atau kegiatan layanan dasar dilakukan mulai dari pemetaan kebutuhan, analisis kebutuhan, merancang dan merencanakan program, sampai pelaksanaan programnya, guru Bimbingan Konseling perlu melihat kembali proses yang sudah berlalu, dengan cara mengevaluasi dan refleksi.

Evaluasi dan refleksi ini bertujuan untuk mengetahui apakah layanan dasar sudah sesuai dengan tujuan dan untuk melakukan perbaikan pada siklus berikutnya. Dari evaluasi dan refleksi tersebut, kita dapat merencanakan program lanjutan apabila diperlukan. Untuk lebih memperkaya proses evaluasi dan refleksi, bisa didiskusikan bersama dengan tim yang bersangkutan agar perencanaannya lebih matang. Dan pastikan hasil evaluasi dan refleksi dicatat, karena nantinya dapat dijadikan bahan perbaikan perencanaan program di tahun ajaran berikutnya. Mengevaluasi setiap proses tahapan dan reflektif terhadap apa yang sudah kita lakukan akan memperkaya kita dalam merencanakan layanan dasar yang bermakna dan tepat guna. Semoga!

Check Also

Magetan, Darurat Kekerasan Seksual Anak?

  Oleh : Muries Subiyantoro Guru BK SMPN 1 Magetan, Pegiat Demokrasi, dan Penggagas LoGoPoRI …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *