SeputarKita,Ngawi – Kabupaten Ngawi memasuki babak baru dalam penyelenggaraan ibadah haji tahun ini. Untuk pertama kalinya, pengelolaan haji tidak lagi berada di bawah Kementerian Agama, melainkan ditangani langsung oleh Kantor Kementerian Haji dan Umroh tingkat kabupaten.
Kepala Kantor Kementerian Haji dan Umroh Kabupaten Ngawi, Masun Azali Amrullah, menyatakan bahwa perubahan ini menjadi momentum penting dalam peningkatan layanan bagi calon jamaah. Ia menegaskan, tahun ini merupakan tahap awal implementasi kebijakan baru tersebut di daerah.
“Jadi tahun ini adalah pengelolaan perdana, haji dikelola oleh kantor kementrian haji dan umroh di Kabupaten Ngawi,” ujar Amrullah. Selasa (21/4/26).
Dalam pelaksanaannya, pihaknya melibatkan sejumlah kelompok bimbingan ibadah haji (KBIH) untuk mendukung proses pemberangkatan. Dua lembaga yang dilibatkan adalah KBIH Jabal Noor dan Surya Mabrur yang berperan aktif dalam pendampingan jamaah.
“Maka dalam pelaksanaan ibadah haji tahun ini kami melibatkan dari kelompok pimpinan ibadah haji dan umroh di Kabupaten Ngawi ada dua yaitu, KBIH Jabal Noor dan Surya Mabrur yang akan membantu dalam proses pelaksanaan pemberangkatan jamaah haji,” katanya.
Jumlah calon jamaah haji asal Ngawi tahun ini tercatat sebanyak 512 orang. Dari jumlah tersebut, 30 orang merupakan jamaah cadangan yang telah melunasi biaya dan siap diberangkatkan jika diperlukan. Seluruh jamaah ini akan tergabung dalam enam kelompok terbang (kloter).
“Tahun ini untuk kuota Jawa Timur ada tambahan kuota, lantaran kebijakan pusat sebanyak 7000 jamaah haji. Masa tunggu secara nasional dibuat sama kurang lebih sekitar 26 tahun yang sebelumnya 33 tahun,” jelasnya.
Tahapan pemberangkatan jamaah juga telah disusun secara rinci. Jamaah saat ini telah menerima koper, sementara agenda pelepasan akan digelar pada 23 April di Pendopo Wedya Graha oleh Bupati Ngawi, Ony Anwar Harsono.
Selanjutnya, pada 25 April dijadwalkan pengumpulan koper di Gedung Kesenian Kabupaten Ngawi. Jamaah akan diberangkatkan pada 27 April dari Pendopo Wedya Graha menggunakan 11 armada bus untuk jamaah utama, sebelum akhirnya terbang ke Arab Saudi melalui Asrama Haji Surabaya pada 28 April.
Amrullah menambahkan, perubahan kebijakan pengelolaan haji ini masih belum sepenuhnya dipahami masyarakat. Banyak warga yang masih mengira penyelenggaraan haji tetap berada di bawah Kementerian Agama, mengingat lokasi kantor yang masih berada di lingkungan yang sama.
“Untuk perubahan kebijakan pengelolaan haji yang baru ini, masih banyak masyarakat yang belum mengetahuinya, dan masih menganggap pengelolaannya ada di Kemenag, karena kantor kita masih di Kemenag, masyarakat berharap ada perubahan terkait pelaksanaan haji terutama pelaksanaan pemberangkatan,” tuturnya. (TA).
