SeputarKita, Pemalang – Video temuan ulat dalam menu program Makan Bergizi Gratis (MBG) di salah satu SD wilayah Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, viral di media sosial dan memicu kekhawatiran publik. Sabtu 18 April 2026.
Sekolah tersebut merupakan penerima manfaat dari dapur MBG Desa Temuireng yang telah beroperasi sekitar empat bulan, dengan jumlah penerima manfaat disebut mencapai lebih dari 2.000 siswa.
Keterangan guru yang mengunggah video menyebut, kejadian ini bukan yang pertama. Sehari sebelumnya, ditemukan ulat jenis ulat buah pada buah naga serta ulat daun pada sayuran salad. Pada hari berikutnya, kembali ditemukan ulat daun pada potongan timun. Dua hari berturut-turut temuan serupa terjadi, menunjukkan masalah yang tidak lagi bisa dianggap insidental.

Menurut informasi yang dihimpun, dapur MBG Temuireng berada di bawah naungan Yayasan Mabruk Alfatih. Kepala SPPG Temuireng, Rahmat Nazar, saat dikonfirmasi menyatakan telah mendatangi sekolah untuk klarifikasi dan menyampaikan permintaan maaf serta akan melakukan evaluasi menyeluruh.
Namun, pernyataan yang disampaikan saat ditemui justru menuai sorotan. Ia diduga menyampaikan pernyataan yang dinilai kurang bijak, dengan mengatakan bahwa kejadian tersebut merupakan hal yang wajar dalam produksi skala besar.
“Namanya juga kelalaian, ini kan porsi banyak jadi nggak gampang. Orang sekelas rumah tangga saja pasti ada yang seperti itu, apalagi ini banyak, pasti ada yang lolos satu atau dua ulat. Namanya juga musibah,” ujarnya.
Pernyataan tersebut memicu reaksi publik karena dinilai tidak mencerminkan standar kehati-hatian dalam program yang menyangkut konsumsi anak-anak.
Terlebih, yayasan tersebut diketahui mengelola hingga lima dapur MBG di Kabupaten Pemalang. Jika satu dapur mengalami persoalan, publik mempertanyakan bagaimana kondisi dapur lainnya.
Sorotan tidak hanya tertuju pada bahan makanan, tetapi juga pada aspek uji kelayakan higienis dan standarisasi dapur sesuai pedoman Badan Gizi Nasional (BGN). Dalam standar tersebut, setiap dapur MBG wajib memenuhi prinsip keamanan pangan yang ketat, mulai dari pemilihan bahan, proses pencucian, penyimpanan, hingga penyajian yang higienis dan bebas kontaminasi.
Selain itu, muncul pula pertanyaan terkait sistem pengolahan limbah (IPAL) dan kondisi fisik dapur. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa dapur MBG Temuireng diduga merupakan bangunan bekas garment yang dialihfungsikan. Hal ini menimbulkan keraguan apakah bangunan tersebut telah melalui uji kelayakan yang memadai, termasuk sanitasi, ventilasi, sirkulasi udara, serta pemisahan area bersih dan kotor sesuai standar dapur produksi pangan.
Sistem IPAL yang tidak memenuhi standar juga diduga berpotensi meningkatkan risiko kontaminasi, baik terhadap lingkungan maupun proses pengolahan makanan itu sendiri.
Dua kali kejadian dalam dua hari bukan lagi sekadar kelalaian teknis. Hal ini diduga mengindikasikan lemahnya kontrol kualitas dalam pelaksanaan program. Padahal, MBG merupakan program strategis yang seharusnya menjamin asupan gizi sekaligus keamanan konsumsi bagi siswa.
Jika pada aspek paling dasar seperti kebersihan makanan saja sudah bermasalah, maka wajar jika publik mempertanyakan keseluruhan sistem pengawasan yang berjalan.
Publik kini menunggu langkah konkret: apakah evaluasi yang dijanjikan akan dilakukan secara menyeluruh, termasuk audit standar higienitas, fasilitas dapur, dan sistem pengelolaan limbah, atau hanya menjadi respons sesaat setelah kasus ini viral. (FN)
