Seputarkita,Ngawi,SINE — Sebagai wujud rasa syukur atas melimpahnya hasil bumi, ketenteraman desa, dan sarana memohon perlindungan kepada Sang Pencipta, Pemerintah Desa (Pemdes) Hargosari, Kecamatan Sine, kembali menggelar acara tradisi tahunan Bersih Desa. Puncak acara yang dinanti-nantikan oleh seluruh lapisan masyarakat ini dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang membawakan lakon penuh filosofi, yakni “Semar Bangun Khayangan”.
Acara yang berlangsung khidmat sekaligus meriah ini dihadiri oleh ratusan warga desa yang tumpah ruah memadati area balai desa. Tradisi Bersih Desa atau yang oleh masyarakat Jawa kerap disebut gas deso ini bukan sekadar ritual tahunan biasa. Momen ini merupakan simbol kuatnya ikatan kegotongroyongan warga serta bentuk nyata pelestarian budaya leluhur yang tak lekang oleh waktu.
Kepala Desa Hargosari, Mono, yang memimpin langsung jalannya seluruh rangkaian acara, menyampaikan bahwa tradisi ini adalah aset desa yang harus terus dirawat dan diwariskan ke generasi muda di tengah derasnya arus modernisasi.

“Bersih Desa ini adalah momentum bagi kita semua, seluruh keluarga besar warga Hargosari, untuk berhenti sejenak dan bersyukur atas segala nikmat—baik itu kesehatan, ketenteraman, maupun hasil bumi—yang telah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Lebih dari itu, ini adalah ajang silaturahmi akbar untuk mempererat kerukunan dan semangat gotong royong antarwarga,” ujar Kades Mono dalam sambutannya sesaat sebelum prosesi penyerahan tokoh wayang (gunungan) kepada sang dalang sebagai tanda dimulainya pertunjukan.
Menggali Makna Lakon “Semar Bangun Khayangan”
Pemilihan lakon “Semar Bangun Khayangan” pada pagelaran wayang kulit kali ini bukanlah tanpa alasan. Lakon ini dinilai memiliki filosofi yang sangat mendalam dan relevan dengan visi pembangunan Desa Hargosari saat ini.
Kisah ini menceritakan tentang tokoh Semar (Kyai Lurah Semar Badranaya), sosok punakawan pengasuh para ksatria yang berpenampilan sederhana namun memiliki kebijaksanaan tingkat tinggi. Dalam lakon tersebut, Semar memiliki cita-cita besar untuk membangun “khayangan”.
Namun, Khayangan yang dimaksud Semar bukanlah istana para dewa di langit, melainkan perwujudan dari sebuah desa atau negara yang tata tenteram, kerta raharja—sebuah tatanan masyarakat yang makmur, adil, sejahtera, aman, dan berakhlak mulia. Semar ingin mengembalikan nilai-nilai kebenaran dan kepedulian para pemimpin terhadap rakyat kecilnya.
Refleksi Visi Pembangunan Desa Hargosari
Kades Mono menegaskan bahwa pesan moral dari lakon tersebut merupakan cerminan dari semangat dan komitmen jajaran Pemerintah Desa Hargosari.
“Lakon Semar Bangun Khayangan adalah pengingat sekaligus teguran bagi kita semua, terkhusus bagi kami di jajaran pemerintahan desa. Bahwa untuk membangun Desa Hargosari yang maju dan mandiri, tidak cukup hanya dengan membangun jalan atau infrastruktur fisik saja,” tegas Mono.
Ia menambahkan, “Kita juga harus membangun ‘khayangan’ di dalam hati setiap warga. Artinya, kita harus bersama-sama membangun akhlak yang baik, kepedulian sosial, toleransi, dan kemandirian ekonomi. Pemimpin harus turun ke bawah, merangkul masyarakat, persis seperti filosofi Semar.”
Mendorong Ekonomi Kerakyatan
Selain menjadi panggung hiburan rakyat dan pelestarian seni budaya, acara Bersih Desa ini juga membawa berkah tersendiri bagi perputaran roda perekonomian warga setempat. Berbagai lapak pedagang kecil dan UMKM desa tampak berjajar rapi di sekitar lokasi acara. Mereka menjajakan aneka kuliner tradisional, hasil bumi pertanian, jajanan anak, hingga kerajinan tangan.
Kehadiran pasar malam dadakan ini sejalan dengan program Kades Mono untuk terus memberdayakan ekonomi kerakyatan, memberikan ruang bagi warga untuk menambah penghasilan di setiap kegiatan desa.
Pagelaran wayang kulit berlangsung meriah dan syahdu hingga dini hari. Antusiasme warga, dari anak-anak hingga sesepuh desa, tidak surut meski udara malam Kecamatan Sine terasa cukup dingin.(Pathok)
