Oleh : Sun Aryo
Pimred Media Seputar Kita
Sering kali, di tengah rasa sakit, kehilangan, atau saat harapan hancur berantakan, muncul satu pertanyaan besar yang menyayat hati: “Apakah Tuhan itu tidak adil?” Pertanyaan ini bukanlah hal baru. Hampir setiap manusia, setidaknya sekali seumur hidup, pernah melontarkan atau memikirkannya. Ketika melihat orang baik tertimpa musibah bertubi-tubi, sementara mereka yang berbuat kesalahan justru hidup enak dan bergelimang harta, rasa kecewa itu tumbuh subur. Muncul anggapan bahwa pembagian nasib di dunia ini terasa timpang, seolah ada ketidakadilan yang disematkan Sang Pencipta kepada ciptaan-Nya.
Banyak orang mengukur keadilan Tuhan dengan kacamata manusia yang terbatas. Kita cenderung menilai sesuatu itu adil jika sesuai dengan keinginan, kenyamanan, atau pemahaman kita sendiri. Ketika kita berusaha sekeras tenaga namun hasilnya nihil, ketika kita berbuat baik namun dibalas kejahatan, atau ketika kita menjaga aturan namun justru yang terkena masalah, kita mulai merasa diperlakukan tidak adil. Kita berpikir, jika Tuhan itu Maha Adil, seharusnya kebaikan dibayar dengan kebahagiaan, dan kejahatan dibalas dengan penderitaan di saat itu juga.
Namun, pemahaman tentang keadilan versi manusia sering kali berbeda jauh dengan skema keadilan yang dijalankan Tuhan. Kita melihat hanya permukaan saja, hanya apa yang ada di depan mata, dan hanya dalam rentang waktu hidup kita yang singkat ini. Kita tidak tahu apa yang terjadi di balik layar, apa tujuan dari setiap kejadian, dan apa dampak jangka panjangnya. Apa yang kita anggap sebagai ketidakadilan saat ini, bisa jadi adalah bagian dari proses pembentukan diri, perlindungan, atau jalan menuju kebaikan yang jauh lebih besar di masa depan yang belum kita ketahui.
Ada pula pandangan yang mengatakan bahwa ketidakadilan yang kita rasakan sesungguhnya bukan berasal dari Tuhan, melainkan dari manusia itu sendiri dan ketidaksempurnaan dunia ini. Ketimpangan sosial, penindasan, kebohongan, dan penderitaan sering kali lahir dari ulah sesama manusia atau hukum alam yang berlaku. Tuhan memberikan akal, kebebasan memilih, dan potensi yang sama pada setiap manusia. Perbedaan hasil yang didapatkan sering kali muncul karena perbedaan cara manusia menggunakan apa yang telah diberikan itu. Ada yang menggunakan akalnya untuk berbuat baik, ada pula untuk merugikan orang lain. Ada yang bersyukur atas apa yang ada, ada yang tidak pernah puas dan merasa kurang terus-menerus.
Selain itu, konsep keadilan Tuhan tidak berhenti di dunia saja. Bagi banyak orang, dunia ini hanyalah tempat persinggahan dan ujian. Keadilan yang sesungguhnya dan sepenuhnya akan terlaksana sempurna di akhirat nanti, di mana setiap perbuatan, baik maupun buruk, akan diperhitungkan dan dibalas seadil-adilnya. Di sinilah letak jawaban dari pertanyaan mengapa orang jahat bisa hidup enak lama, atau orang baik menderita terus: karena pembalasan belum selesai, dan panggung keadilan yang hakiki belum tiba.
Pada akhirnya, anggapan bahwa Tuhan tidak adil muncul ketika kita menilai segalanya hanya dari sudut pandang diri sendiri dan momen saat ini saja. Sering kali, rasa itu muncul karena kita belum memahami sepenuhnya rencana-Nya yang luas dan mendalam. Mungkin yang kita sebut ketidakadilan itu adalah cara Tuhan mengingatkan, melindungi, atau mengangkat derajat kita ke tempat yang lebih tinggi, dengan cara yang tidak selalu enak, namun pasti penuh makna.
Kita memang bebas merasakan kecewa, bertanya, atau bahkan marah saat tertimpa ujian berat. Itu wajar sebagai manusia. Namun, kita perlu ingat bahwa ukuran adil dan tidak adil yang kita miliki sangat terbatas. Sementara itu, Pencipta kita Maha Mengetahui segala sesuatu yang tidak bisa kita jangkau akal dan mata kita.
