Oleh : Sun Aryo,
Pimred Media Seputar Kita
Ada satu pelajaran pahit yang nyaris semua orang pernah rasakan dalam hidup ini: kekecewaan. Dan hampir selalu, akar dari rasa kecewa itu bermula dari hal yang sama—terlalu percaya pada manusia. Boleh dikatakan, menaruh kepercayaan secara mutlak kepada sesama manusia adalah kesalahan terbesar yang sering kali kita lakukan tanpa sadar.
Manusia adalah makhluk yang dinamis, berubah, dan penuh dengan kepentingan. Hari ini seseorang bisa berjanji setia, besok ia bisa berubah pikiran karena keadaan atau keuntungan pribadi. Hari ini ia terlihat begitu baik, tulus, dan siap mendukung kita kapan saja, belum tentu esok hari ia masih berdiri di tempat yang sama. Sifat dasar manusia memiliki keterbatasan: bisa lupa, bisa khianat, bisa lelah, dan bisa berubah hati. Ironisnya, sering kali kita lupa akan hakikat ini.
Kita sering menjadikan manusia sebagai sandaran utama kebahagiaan, harapan, dan masa depan kita. Kita menitipkan isi hati, mimpi-mimpi, dan rahasia terdalam kepada seseorang dengan keyakinan bahwa mereka takkan pernah berkhianat. Padahal, ketika kita meletakkan seluruh hidup kita di tangan manusia, kita sedang menyerahkan kendali atas perasaan kita kepada orang lain. Ketika mereka pergi, berubah, atau melukai kita, kita merasa hancur bukan semata-mata karena perbuatan mereka, tapi karena ekspektasi tinggi yang kita bangun sendiri atas nama kepercayaan itu.
Bukan berarti kita harus hidup penuh kecurigaan, menutup diri, atau bersikap dingin kepada sesama. Hidup bermasyarakat tetap memerlukan rasa percaya sebagai jembatan hubungan. Namun, yang perlu disadari adalah batasnya. Percayalah kepada manusia secukupnya, namun jangan pernah menjadikan mereka sebagai sandaran terakhir atau tempat bertumpu sepenuhnya.
Satu-satunya yang tidak akan pernah berubah janjinya, tidak akan pernah lupa, tidak akan pernah meninggalkan, dan tidak akan pernah mengecewakan hamba-Nya hanyalah Tuhan. Dialah satu-satunya tempat kembali, tempat mengadu, dan tempat menaruh harapan yang mutlak dan abadi.
Sejarah dan pengalaman hidup mengajarkan kita: kepercayaan kepada manusia boleh saja ada, tetapi jangan sampai melebihi kepercayaan kita kepada Sang Pencipta. Karena pada akhirnya, manusia bisa salah langkah, bisa mengecewakan, dan bisa berkhianat. Namun Tuhan, tidak pernah salah menjaga, tidak pernah salah mengatur jalan hidup kita, dan selalu ada di sisi kita, baik saat kita sedang bahagia maupun saat dunia terasa sepi dan kejam.
Belajarlah untuk percaya, tapi belajarlah juga untuk tidak membebani manusia dengan harapan yang terlalu tinggi. Karena saat kita sadar bahwa hanya kepada Tuhanlah kita boleh percaya sepenuhnya, rasa kecewa itu akan berkurang, dan hati kita akan jauh lebih tenang dan terlindungi.
