Kolam Retensi Efektif untuk Pengendalian Banjir, Tidak Harus Luas Namun Harus Banyak

 

SeputarKita, Nganjuk – Dengan pemikiran dan upaya percepatan untuk penanggulangan banjir di wilayah kota Nganjuk, Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR)  Kabupaten Nganjuk melalui Bidang Pengairan telah mewujudkan karya nyata yakni sebuah kolam ” RETENSI ” terletak di Kelurahan Mangundikaran Kecamatan Kota Kabupaten Nganjuk.

Hamparan Retensi ini memakai tanah aset daerah seluas 1 Ha, tubuh tanggul selebar 4 M, kedalaman kolam 4,5 M daya tampung air maksimal 45 Ribu M3.

Kabid Pengairan Dinas PUPR Kabupaten Nganjuk, Agung Endro Laksono mengatakan, pembangunan kolam retensi ini menelan dana Rp. 134 Juta. Diambilkan dari 5 UPT gotong royong dari dana operasional rutin, UPT widas, UPT berbek dan lainnya.

Sementara itu, Awak media Seputar Kita mengambil narasumber dari Tribun Jabar terkait Kolam Retensi dijelaskan oleh Guru Besar dan Pengamat Lingkungan Hidup Universitas Padjadjaran, Chay Asdak, menilai kolam retensi sangat efektif sebagai pengendali banjir saat musim penghujan.

Kolam retensi berfungsi untuk menampung sementara air banjir, kemudian dialirkan kembali setelah puncak banjir terlewati.

Kolam retensi juga memiliki fungsi sebagai lahan konservasi.

“Kolam retensi tidak perlu besar. Bisa kecil-kecil, tapi harus banyak. Kemudian kolamnya jangan dibeton dasarnya agar terjadi penyerapan. Saya kira efektif sebagai salah satu konsep pengendalian banjir, tapi itu tadi, titiknya harus banyak. Karena terkait dengan kapasitas tampung dari kolam tersebut,” tutur Chay Asdak.

Menurut Chay Asdak, kolam retensi juga dapat menjadi fasilitas resapan yang berfungsi menjaga elevasi muka air tanah dan juga kualitas airnya.

Kolam retensi ini pun berfungsi untuk mengontrol parameter debit puncak dan waktu penuntasan, yaitu dengan memotong debit puncak banjir yang terjadi.

“Melihat hujan yang lebat dan kontribusi air yang sangat besar, kolam retensi ini menjadi solusi yang bagus dan bisa efektif, tapi kapasistasnya harus luas dan dibuat di beberapa titik. Apakah cukup dengan satu saja, ya tentunya tidak cukup,” katanya.

Secara teknis, ujar Chay Asdak, memang tidak ada ukuran baku untuk pembuatan kolam retensi ini. Intinya, semakin luas dan banyak kolam retensi, maka akan semakin efektif mengendalikan banjir.

“Harus ada di beberapa titik juga, di tempat lain saya kira harus dibuat lagi diperbanyak kolamnya. Jadi, untuk mengukur seberapa efektivitas itu (kolam retensi) tergantung kapasitas tampung dan banyaknya kolam retensi,” ucapnya.

Selain untuk pengendali banjir, sambung Chay Asdak, kolam retensi pun dapat dijadikan tempat wisata, atau dimanfaatkan untuk keperluan pertanian dan kolam ikan.

“Kolam retensi juga biasanya disebut juga kolam kering, karena ketika hujan kolam ini akan menampung air, ketika kemarau airnya bisa disalurkan ke tempat lain, tapi karena ini di kota harusnya tetap terairi dan ditata dengan baik agar jadi tempat wisata,” pungkasnya.

Pantauan awak media, disekitar kolam retensi Kelurahan Mangundikaran, Kecamatan Kota, Kabupaten Nganjuk, banyak petani yang sedang menjalankan aktifitasnya.

Salah satu petani saat didekati awak media Seputar Kita mengaku bernama Puji (64) mengaku bertempat tinggal di Kelurahan Mangundikaran. Sambil menunggu tanaman padi yang mulai menguning, ia memanfaatkan pematang sawah seluas 2.800 M2 dengan tanaman sayur kacang panjang.

Sawah ini ia sewa dari tanah bengkok kelurahan sebesar Rp. 5 Juta / Tahun. Adanya kolam retensi ini besar sekali manfaatnya setiap musim kemarau. Airnya nanti akan dialirkan menggunakan diesel untuk mengairi tanaman polowijo.

“Yang paling bermanfaat kolam retensi ini, selain untuk tanaman, juga sekedar tempat rekreasi buat pelepas penat, ” pungkas Puji. (Ris)

Check Also

Gangguan Pengereman, Bus Tujuan Sarangan Alami Laka Tunggal

  SeputarKita, Magetan – Kecelakaan lalu lintas tunggal terjadi di Jalan Raya Cemorosewu-Plaosan, tepatnya di …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *