TEMAN SEBAYA : PROBLEM BARU DI MASA DARING-PANDEMI

Penulis : Hanif Ikhsani, S.Pd.I

Sudah berlangsung lebih dari 8 bulan lamanya, situasi pandemi corona melanda diseluruh negara di dunia, tanpa terkecuali Negara Indonesia. Secara kasat mata, selain nyawa, pandemic telah merontokan berbagai sendi kehidupan yang menentukan keberlangsungan kehidpan manusia sehari-hari, Mulai dari kesehatan, ekonomi dan tanpa terkecuali dunia Pendidikan.

Dibidang pendidikan, covid telah menjadikan persoalan tersendiri bagi aktivitas belajar-mengajar yang diselenggarakan oleh lembaga pendidikan. Di awal penyebarannya yang mengaharuskan Guru dan peserta didik melaksanakan pembelajaran jarak jauh, Covid seolah memberikan isyarat tentang pentingnya pendidikan keluarga agar tampil menjadi pilar utama yang harus dibangun sebelum peserta didik pergi keluar rumah dan membaurkan diri dengan individu lain yang ada dilingkungannya. Apalagi dalam Islam. keluarga adalah inti pendidikan dasar orang tua terhadap anaknya. Dari sinilah, modal spiritual, akhlak serta mental menjadi bekal awal yang sangat menentukan bagi anak kedepannya mulai ditanamkan. Sebelum ia terwarnai oleh lingkungan dimana ia tempati nantinya.

Namun pada kenyataanya, hampir semua orangtua dengan segala upaya yang ada; siap untuk menyekolahkan anaknya agar mendapatkan pendidikan yang terbaik, walaupun harus ditempuh dengan biaya yang tidak murah. Tetapi sebaliknya, bahwa tidak semua orangtua sanggup untuk mendidik anaknya melalui lisan dan tangganya sendiri walau hanya sekedar membiasakan kedisiplinan dan perilaku akhlak yang baik. Hal tersebut sangat terlihat dengan hadirnya pandemic Covid-19 ini. Berbagai masalah muncul berkaitan interaksi antara orangtua dan anaknya sebagai peserta didik, ketika pandemic berjalan makin jauh tidak kunjung terlihat ujung kapan berahirnya.

Ketika pendidikan tidak menemukan jatidirinya di era pandemic dan bertaruh pada hilangnya pemahaman pengetahuan pada sebuah generasi, keadaan justru semakin berat lagi ketika peserta didik bertemu dengan orang tua yang belum siap mendidik. Tidak berhenti sampai disini, masalah masih terus bergulir dengan proses pembelajaran daring yang telah lama berjalan, serta telah terjadi diberbagai tempat khususnya diwilayah pedesaan yang minim akses internet. Seiring berjalannya pembelajaran jarak jauh yang lama, timbul kebosanan pada diri Siswa sehingga mereka mencari cara mengatasi kebosanan dengan keluar rumah berkelompok dengan teman-tamannya yang lain bahkan yang berbeda tingkatan usia. Situasi pandemic yang telah berjalan lama ini mengurangi waktu peserta didik untuk berkumpul dengan teman sebaya sebagaimana biasanya disekolah. Tidak dipungkiri, ketika pembelajaran daring terus dilakukan, aktifitas bermain siswa dilingkungan tinggalnya justru makin bebas, terlebih bagi pelajar yang lepas dari control orang tua oleh karena tuntutan pekerjaan. mereka lebih mudah bergaul dengan siapa saja dengan latarbelakang karakter yang beragam bahkan negatif. Hal ini tentu membuat khawatir , bila banyaknya waktu luang peserta didik dirumah membuka kebebasanya untuk berinteraksi social dengan siapapun tanpa filter yang mencukupi. Akhirnya, budaya dan kebiasaan baik yang sudah dibentuk oleh dunia pendidikan di sekolahnya, perlahan mulai terkikis, bahkan minat belajarnyapun kian pudar tergantikan dengan kebiasaan baru dari tempat dan teman baru yang ia dapatkan. Alhasil, generasi muda kita salah-salah tidak mendapatkan apa-apa, namun justru mendapatkan warna yang kurang baik, akibat terbuka luasnya pintu pergaulan selama pembelajaran daring ini.

Mencermati fenomena tersebut, menurut hemat saya sangat perlu orang tua terutama melakukan kontrol dengan cara memperhatikan dan mendorong anaknya agar bergaul dengan teman sebaya (se usia), agar interaksi sehat tercipta ditengah situasi pandemic yang melahirkan pendidikan minim model seperti sekarang ini. Kedua, Masyarakat harus turut ikut berperan aktif dalam rangka mengingatkan para remaja yang berstatus sebagai pelajar dalam kelompok-kelompok tertentu apabila sudah terdapat indikasi perilaku yang tidak mencerminkan nilai-nilai moral dan social yang dijunjung bersama. Jangan sampai masyarakat terutama tokoh yang ada didalamnya, abai terhadap interaksi social remaja dalam lingkungannya terutama yang masih berstatus pelajar bila tidak ingin watak-watak pelajar hilang dari lingkungan masyarakat.

Check Also

Police Goes to School di SMA Muhammadiyah 1 Gresik, Tanamkan Kesadaran Tertib Lalu Lintas Sejak Dini

  SeputarKita, Gresik – Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polres Gresik kembali menyelenggarakan kegiatan Police Go …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *