Bedah Sejarah Kabupaten Magetan, Peringati Hari Jadi Magetan 345

Bupati Magetan Dr. Drs Suprawoto, SH. MSI saat memberikan sambutan


Magetan, Seputarkita – Pemerintah Kabupaten Magetan menggelar sarasehan untuk memperingati hari jadi ke 345 Kabupaten Magetan dengan tema ” Bedah sejarah Kabupaten Magetan” di Pendopo Surya Graha, Jl. Basuki Rakhmat Selatan No.1 Magetan, Sabtu (24/10/2020) 

Hadir dalam Serasehan Bupati Magetan Dr. Drs Suprawoto, SH. MSI, Sekretaris Daerah Kabupaten Magetan Hergunadi MT, Danyonko 463 Paskhas Letkol Pas Verial Tunruribela, Komandan Kodim 0804/Magetan di wakili oleh Pasintel Kapten Arm Khoirudin, Komandan Secata Rindam V/BRW Kapten Inf Sumiran, Kapolres Magetan diwakili oleh Kabagren Polres Magetan Kompol Mulyono, SH, NH, Danramil Magetan Kapten Inf Suparlan, Jajaran Asisten I,II,III dan Staf Ahli Kabupaten Magetan, Jajaran Kabag/Kadis/SKPD Kabupaten Magetan, Undangan /Moderator Prof.Pieter Carry, Dr.Drs H Sumantri,MM, Dr. Purwandi SH.Hum dan H. Koesman BA. 
Dalam sambutannya Bupati Magetan Dr. Drs Suprawoto, SH. MSI mengatakan, sarasehan di pendopo ini, saya meminta sekolah-sekolah di Magetan membuat tulisan sejarah sekolahnya sendiri. “Contohnya ada sekolah sejarah SMP 1 Magetan SMP 4, SMP 1 Maospati dan seterusnya dulukan di sekolah itu ada sejarah sejarahnya sendiri kemudian juga desa setiap desa membuat sejarah desa desanya sendiri sehingga termuat suatu kompilasi menjadi sejarah peta Desa/kelurahan diseluruh Kabupaten Magetan,”terang Bupati Suprawoto. 
Sejarah singkat Kabupaten Magetan yang di sampaikan oleh Prof.Pieter Carry mengatakan, pada tahun 1645 Sultan Agung Hanyokrokusumo Raja Mataram wafat. beliau digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Amangkurat Iyang menduduki tahta kerajaan Mataram. tahun 1646-1677 berbeda dengan mendiang ayahnya Sultan Amangkurat Ibersifat lemah terhadap VOC, bahkan mau bekerja sama dengan Kompeni Belanda itu, sehingga menimbulkan rasa kecewa dari banyak pihak, terutama kaum ulama’ serta daerah-daerah manca negara. di sana sini banyak pihak yang memberontak. 
Segenap Undangan yang hadir
“Pada suatu ketika Basah Gondokusumo atau Basah Bibit, yakni kerabat keraton Mataram beserta pangeran Nrang Kusumo Patih Mataram diusir oleh sultan Amangkurat I karena dituduh bersatu dengan pemberontak. Basah Gondokusumo dijatuhi hukuman pengasingan di Semarang, di tempat kediaman kakeknya yang bernama Basah Suryaningrat. Sedangkan Pangeran Nrang Kusumo kemudian pergi bertapa ke daerah sebelah timur Gunung Lawu. Akhirnya Basah Gondokusumo bersama-sama dengan Basah Suryaningrat pergi ke sebelah timur Gunung Lawu mencari tempat pemukiman yang baru. Disini oleh Ki Ageng Mageti yang cikal bakal daerah ini beliau berdua diberi sebidang tanah untuk bermukim. setelah mapan Suryoningrat mewisuda cucu beliau yakni Basah Gondokusumo menjadi penguasa di tempat baru ini dengan gelar “Yosonegoro”, yang kemudian dikenal sebagai Bupati Yosonegoro yakni pada tanggal 12 Oktober 1675, sedang tanah baru itu diberi nama “Magetian” karena tanah tersebut sebagai jasa pemberian Ki Ageng Mageti,”cerita Prof.Pieter Carry. 
Selanjutnya, peristiwa penobatan sebagai Bupati pertama ini ditandatangani dengan Warsa Sangkala ‘MANUNGGALING RASA SUKO HAMBANGUN”, daerah Magetan merupakan suatu daerah yang perbatasannya sebelah barat dengan Gunung Lawu menuju ke barat daya merupakan deretan Sidaramping, Gunung Jabolarang dan Gunung Kukusan berbatasan dengan Kabupaten Karanganyar Jawa Tengah, di sebelah utara merupakan daratan yang bergelombang naik mengarah ke timur sampai dengan barat ke kaki Gunung Lawu berbatasan dengan Kabupaten Ngawi, sebelah selatan merupakan dataran rendah berbatasan dengan Kabupaten Madiun. 
“Sungai yang memotong daerah Magetan menjadi dua bagian mulai dari pangkal sumber di bawah Cemorosewu, Gunung Kendil dan Gunung Sidoramping adalah Sungai Gandong yang merupakan jalur bersejarah penuh dengan misteri dan ditaburi dengan makam-makam jaman kuno, di Kabupaten Magetan banyak ditemukan peninggalan-peninggalan sejarah yang berupa petilasan bangunan-bangunann purbakala maupun petilsan bekas pusat pemerintahan,”jelas Prof.Pieter Carry. 
Makam leluhur Magetan Patih Nrang Kusumo dan Patih Ngariboyo II di Dukuh Njelok Desa Bulukerto Kota Magetan dan makam Kanjeng Adipati Purwodiningrat, mertua Hamengku Buwono di Desa Pacalan Kecamatan Plaosan juga merupakan bukti sejarah. 
Prof.Pieter Carry saat memberikan paparan
“Makam Astana Gedhong di Kelurahan Tambran Kecamatan Kota Magetan terdapat makam Adipati Yosonegoro yang erat hubungannya dengan sejarah babad Magetan. Di makam Sasonomulyo Dukuh Sawahan Desa Kapolorejo Kota Magetan terdapat makan-makan bupati Magetan dan masih banyak lagi makam-makam yang tersebar di daerah -daerah yang sampai sekarang masih keramat,”terang Prof.Pieter Carry. 
Kota Mageti : Pertemuan antara Basah Suryoningrat dengan Ki Ageng Mageti yang akrab ini dilanjutkan dengan perdebatan sengit terhadap suatu pernyataan. Sandi yang diberikan oleh Ki Ageng Mageti kepada Basah Suryoningrat. Setelah ia dapat menjawab dengan tepat dan benar pernyataan sandi keraton yang dilontarkan oleh Ki Ageng Mageti, akhirnya Ki Ageng Mageti yakin bahwa Basah Suryoningrat adalah bukan kerabat keraton tetapi merupakan sesepuh kerajaan Mataram. 
Akhirnya beliau diberi sebidang tanah untuk bermukim, terletak di sebelah utara sungai Gandong tepatnya di Desa Tambran sebagai tempat yang aman dan tenteram untuk pengayoman para leluhur Mataram. Setelah mapan di tempat yang baru ini Basah Suryoningrat mengangkat cucunya yaitu Basah Gondokusumo menjadi penguasa di tempat baru dengan gelar “Yosonegoro” kemudian dikenal sebagai Bupati Yosonegoro, Bupati Magetan yang pertama kali. 
“Wisuda Bupati Yosonegoro oleh Basah Suryoningrat ditandai dengan penyerahan sebuah keris pusaka. Pesta syukuran wisuda Bupati tersebut berlangsung secara sederhana. Syukuran ditandai dengan pemotongan tumpeng oleh Basah Suryoningrat diberikan kepada Yosonegoro dan dihadiri oleh masyarakat setempat. Wilayah pemerintah tersebut dinamakan Magetan, karena peristiwa terjadinya Kabupaten Magetan ini adalah atas pemberian tanah dari Ki Ageng Mageti maka daerah baru tersebut diberi nama Kota Mageti, mengalami penambahan “an” menjadi Magetian, akhirnya berubah nama menjadi Magetan sampai sekarang,”papar Prof.Pieter Carry. 
Ringkasan kegiatan Sarasehan memperingati hari jadi Kab Magetan ke 345 dengan Mengambil Tema “Bedah Sejarah Magetan” merupakan sejarah Kabupaten Magetan Untuk mengenang jasa jasa para pendiri Wilayah Kabupaten Magetan.(Tris)

Check Also

Kerjakan Lebih Cepat dari Rencana, Dinas PUPR Kabupaten Madiun Rekonstruksi Jalan Ruas Krapyak – Sumbergandu 

  SeputarKita, Madiun – Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Madiun melanjutkan upaya …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *