SeputarKita, Ngawi – Suasana khidmat bercampur meriah menyelimuti Lapangan Desa Setono, Kecamatan Ngrambe, Kabupaten Ngawi pada Kamis (2/7/2026). Pemerintah Desa (Pemdes) Setono sukses menggelar tradisi tahunan Bersih Desa atau yang akrab disebut Rasulan. Agenda sakral ini menjadi momentum penting bagi warga setempat untuk memanjatkan puji syukur kepada Sang Pencipta sekaligus melestarikan warisan leluhur.
Acara yang berlangsung meriah ini dihadiri oleh jajaran Muspika (Musyawarah Pimpinan Kecamatan) Ngrambe, Kepala Desa Setono beserta seluruh perangkat desa, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ratusan warga yang memadati area lapangan sejak sore hari.
Harmoni Budaya dan Nilai Religius
Tradisi Bersih Desa di Desa Setono kali ini tidak sekadar menjadi ritual tahunan, melainkan juga wadah mempererat tali silaturahmi (ukhuwah islamiyah) dan memperkuat spiritualitas warga. Sebelum pagelaran budaya dimulai, rangkaian acara diawali dengan doa bersama dan kenduri sebagai wujud berserah diri kepada Allah SWT.
Kepala Desa Setono dalam sambutannya menyampaikan bahwa esensi dari Rasulan ini adalah bentuk syukur atas segala nikmat, kesuburan tanah, dan keselamatan yang telah diberikan oleh Yang Maha Kuasa kepada seluruh warga desa.
“Bersih Desa ini adalah simbol pembersihan diri dan lingkungan. Kita berdoa bersama agar Desa Setono dijauhkan dari segala balak dan bencana, serta masyarakatnya diberikan kedamaian, kemakmuran, dan keberkahan batin,” ungkap Kepala Desa Setono penuh khidmat.
Filosofi “Lahire Gatotkoco” dalam Kehidupan
Puncak acara Bersih Desa ini dimeriahkan oleh pagelaran wayang kulit semalam suntuk dengan mengambil lakon “Lahire Gatotkoco” (Lahirnya Gatotkaca). Pemilihan lakon ini ternyata memiliki makna filosofis dan religius yang mendalam bagi masyarakat Ngrambe.
Lakon “Lahire Gatotkoco” mengisahkan perjuangan, keteguhan iman, dan kawah candradimuka yang harus dilalui demi melahirkan sosok ksatria tangguh pembela kebenaran. Dalam konteks kehidupan sehari-hari, kisah ini membawa pesan moral yang kuat:
Ujian Hidup sebagai Penggemblengan: Layaknya Gatotkaca yang diceburkan ke kawah candradimuka, manusia harus sabar dan tawakal dalam menghadapi ujian dari Sang Pencipta agar tumbuh menjadi pribadi yang kuat.
Pengorbanan dan Pengabdian: Mengajarkan warga untuk selalu siap berkorban demi kepentingan orang banyak dan menegakkan keadilan.
Kemenangan Kebenaran atas Kebatilan: Menjadi pengingat bahwa kebaikan yang diridhai Tuhan akan selalu menang melawan keburukan.
Sinergi Muspika dan Antusiasme Warga
Kehadiran seluruh unsur Muspika Kecamatan Ngrambe memberikan dukungan moril yang besar bagi masyarakat Desa Setono. Pihak Muspika mengapresiasi langkah Pemdes Setono yang mampu mengemas acara ini dengan seimbang antara unsur budaya lokal dan nilai-nilai religius.
Ratusan warga dari berbagai usia tampak antusias mengikuti jalannya acara hingga akhir. Lapangan Desa Setono yang biasanya sunyi, malam itu berubah menjadi pusat peradaban yang hidup, penuh dengan lantunan doa, tabuhan gamelan yang magis, dan pesan-pesan bijak kehidupan.
Dengan suksesnya gelaran Bersih Desa ini, Pemdes dan warga Setono berharap berkah dan kedamaian senantiasa menaungi desa mereka di lereng Gunung Lawu ini, menjadikan Setono sebagai desa yang baldhatun thoyyibatun wa robbun ghofur—sebuah daerah yang aman, makmur, dan penuh ampunan Tuhan. (Pathok).
