SeputarKita, Nganjuk – Puluhan bhiksu dari Indonesia, Thailand, Malaysia, Laos, dan Singapura yang tengah melanjutkan perjalanan kaki spiritual dari Bali menuju Candi Borobudur, Magelang, Jawa Tengah, dalam agenda Indonesia Walk for Peace 2026 menjelang Hari Raya Waisak yang jatuh pada 31 Mei mendatang saat ini sudah memasuki wilayah Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Kamis, 21 Mei 2026.
Perjalanan sejauh lebih dari 600 kilometer ini dimulai pada 9 Mei lalu dari Vihara Brahmavihara Arama, Buleleng, Bali, dan dilepas langsung oleh pejabat pemerintah serta pemuka agama setempat . Tradisi berjalan kaki ini disebut Dhutanga atau populer dengan sebutan Thudong, praktik asketis kuno sejak zaman Buddha Gautama, yang mengutamakan kesederhanaan, kedisiplinan, dan penyebaran pesan damai serta toleransi lintas iman .
Setiap hari, mereka menempuh jarak 30–40 kilometer, membawa perlengkapan sederhana berupa jubah dan mangkuk, serta bermalam di vihara atau tempat ibadah di sepanjang rute yang dilalui . Dari Bali, rombongan menyeberang ke Jawa, melintasi Banyuwangi, Pasuruan, Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, hingga kini telah berada di wilayah Nganjuk Jawa Timur dan akan segera masuk ke Jawa Tengah lewat Madiun. Selanjutnya rute akan melewati Sragen, Solo, Klaten, Yogyakarta, hingga tiba di Magelang dan masuk kawasan Borobudur sekitar tanggal 28 Mei nanti.
Kedatangan mereka disambut hangat oleh masyarakat setempat dan umat Buddha di wilayah Nganjuk. Warga yang melihat perjalanan ini banyak yang berhenti sejenak untuk memberikan penghormatan, air minum, maupun persembahan sederhana sebagai wujud bakti. Di beberapa titik jalan, suasana terasa damai saat rombongan melintas, seolah membawa pesan kedamaian dan persaudaraan bagi siapa saja yang menyaksikannya.
Salah satu warga setempat, Slamet (52), yang berinisiatif menyediakan air minum dan makanan ringan di pinggir jalan, mengaku sangat terkesan dengan ketabahan para bhiksu. “Saya sangat kagum, sudah berjalan jauh dari Bali sampai ke sini, tapi wajah mereka tetap tenang dan damai. Ini contoh nyata persaudaraan dan kesederhanaan yang sangat indah. Meski kami berbeda agama, kehadiran mereka membawa kedamaian tersendiri bagi kami warga Nganjuk,” ujarnya dengan penuh rasa hormat.
Sepanjang jalan, kehadiran mereka selalu disambut hangat masyarakat dari berbagai latar belakang agama dan budaya. Meski harus berjuang melawan cuaca panas yang mencapai 38–40 derajat Celcius, semangat para bhiksu tak luntur, karena setiap langkah dianggap sebagai persembahan damai bagi diri sendiri, bangsa, dan dunia.
Rencananya tiba di Borobudur nanti, perjalanan ini akan ditutup dengan rangkaian upacara suci Waisak di kompleks candi terbesar dunia itu, menjadi puncak perjalanan batin yang penuh makna, mengingatkan kembali pada ajaran cinta kasih dan kedamaian sejati. (NT).
