SeputarKita, Surabaya – Sebanyak 197 siswa mulai dari TK, SD, hingga SMP yang tersebar di 12 sekolah se-Kecamatan Bubutan, Surabaya, mengalami dugaan keracunan makanan usai mengonsumsi sajian program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dibagikan Senin (11/5) kemarin. Di antaranya ada 71 siswa dan 4 guru dari SD Pancasila, yang menjadi salah satu sekolah terdampak paling banyak. Seluruh korban dilarikan ke Puskesmas Tembok Dukuh dan RSIA IBI Surabaya dengan keluhan sakit perut, mual, muntah, pusing, dan lemas.
Menu yang diduga menjadi pemicu adalah olahan daging krengsengan, menu baru yang pertama kali disajikan hari itu, disalurkan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Tembok Dukuh. Kepala Sekolah SD Pancasila, Subandi, mengaku ikut mencicipi makanan tersebut dan juga merasakan gejala serupa. “Awalnya tampilan dan baunya normal, tidak ada tanda basi. Tapi 1–2 jam setelah makan, banyak anak mulai menangis mengeluh sakit perut. Kami langsung bawa ke fasilitas kesehatan,” katanya. Hingga Selasa pagi, hampir seluruh siswa sudah pulang dan kondisinya membaik; hanya 3 anak yang masih dalam pemantauan lanjut.
Pihak pengelola SPPG Tembok Dukuh telah menyampaikan permohonan maaf terbuka, menghentikan seluruh distribusi, menarik sisa makanan, dan berjanji menanggung seluruh biaya pengobatan. Sampel makanan, bahan baku, dan alat masak sudah dikirim ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan untuk mengetahui penyebab pasti—apakah dari bahan baku, cara pengolahan, atau penyimpanan yang tidak sesuai standar.
Menanggapi insiden ini, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi langsung turun tangan dan memberikan pernyataan tegas di kantor Pemkot Surabaya, Selasa siang.
“Kami sangat prihatin dan meminta maaf mendalam kepada seluruh orang tua, siswa, dan guru yang terdampak. Niat program MBG ini mulia: memberi gizi baik agar anak sehat dan cerdas. Tapi kalau malah membahayakan, itu tidak boleh terjadi. Langkah pertama yang kami ambil: hentikan sementara seluruh layanan dari SPPG Tembok Dukuh sampai hasil lab keluar dan penyebab jelas diketahui,” ujar Eri Cahyadi.
Ia menegaskan sudah memanggil Kepala Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, pengelola SPPG, dan tim pengawas untuk dimintai keterangan lengkap. “Siapa pun yang lalai, tidak patuh standar keamanan pangan, atau ada kelalaian dalam proses—akan kami proses sesuai aturan yang berlaku. Tidak ada kompromi demi keselamatan anak-anak kita,” tegasnya.
Wali Kota juga mengumumkan perubahan sistem pengawasan: mulai besok, tim gabungan akan melakukan pengecekan mendadak setiap hari ke seluruh 28 dapur penyedia MBG di Surabaya. Standar kebersihan, jadwal masak, suhu penyimpanan, hingga kualitas bahan baku akan diperketat ulang. “Kami tambah petugas pemantau, wajib ada pengecapan ulang sebelum makanan dikirim, dan semua catatan harus terbuka. Program ini tetap berjalan, tapi harus jauh lebih aman dan terjamin kualitasnya,” tambahnya.
Salah satu wali murid siswa SD Pancasila, Ibu Siti, berharap langkah ini sungguh diterapkan. “Kami sangat mendukung program ini karena meringankan beban kami. Tapi yang utama: anak kami harus aman. Jangan sampai niat baik jadi musibah lagi,” katanya.
Saat ini tim investigasi masih bekerja, dan hasil laboratorium diperkirakan keluar dalam 2–3 hari ke depan. Pemerintah Kota Surabaya berjanji akan mengumumkan hasil lengkap dan tindak lanjutnya secara transparan kepada publik. (Bas).
