SeputarKita,Ngawi – Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Soerjo Ngawi menggelar bedah buku dan diskusi kolektif lintas kampus dalam rangka memperingati Hari Buku Internasional, Kamis (23/4/2026). Kegiatan yang diinisiasi Kementerian Aksi dan Propaganda itu berlangsung di Angkringan Batas Kota Ngawi.
Mengusung tema “Literasi Menggugat: Membaca Masa Lalu, Menjemput Masa Depan”, acara tersebut diikuti delegasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Kabupaten Ngawi. Di antaranya, STITI KP Paron, STIT Muhammadiyah Mantingan, serta Polije Kampus 5 Ngawi. Sejumlah elemen masyarakat sipil juga turut hadir.
Buku yang menjadi fokus pembahasan adalah “Bung Karno Menggugat!: Dari Marhaen, CIA, Pembantaian Massal ’65 hingga G30S”. Pemilihan buku ini dinilai relevan untuk mendorong mahasiswa memahami sejarah, politik, dan dinamika sosial secara lebih kritis.
Menteri Aksi dan Propaganda BEM Universitas Soerjo, Maulana Kahanan K, mengatakan, peringatan Hari Buku Internasional harus menjadi momentum bagi mahasiswa untuk kembali meneguhkan tradisi literasi yang kritis dan reflektif.
“Mahasiswa adalah agen perubahan yang tidak boleh hanya sekadar membaca teks, tapi harus mampu membedah narasi sejarah dan politik secara mendalam sebagai bahan ajar pergerakan masa kini,” ujarnya.
Maulana menjelaskan, kegiatan tersebut merupakan program perdana yang digagas kementeriannya. Ke depan, agenda serupa akan dilaksanakan secara rutin sebagai upaya membangun dan merawat iklim intelektual di kalangan mahasiswa.
Rangkaian acara dikemas dalam beberapa kegiatan. Selain bedah buku, panitia juga menggelar Focus Group Discussion (FGD) dengan pembahasan mendalam setiap bab buku. Diskusi diawali pemaparan oleh Muhammad Jaka Alamsyah Koto, lalu dilanjutkan dengan sesi kelompok kecil agar peserta dapat mengulas isi buku secara lebih komprehensif.
Tak hanya itu, panitia juga membuka lapak baca gratis yang didukung Kedai Kopi Mingunani. Sekitar 100 buku disediakan untuk pengunjung. Selain itu, digelar pula gerakan hibah buku guna menambah koleksi literasi mahasiswa.
Presiden BEM Universitas Soerjo, Dimas Aradhea Wibowo, menilai rendahnya tingkat literasi masih menjadi tantangan besar. Karena itu, menurut dia, budaya membaca harus terus dikampanyekan secara luas untuk meningkatkan kualitas intelektual masyarakat, khususnya di Kabupaten Ngawi. “Literasi adalah senjata utama kita dalam menjemput masa depan,” pungkasnya.
Melalui kegiatan ini, BEM Universitas Soerjo berharap dapat menghadirkan ruang dialektika yang berkelanjutan. Selain memperkuat tradisi intelektual, kegiatan tersebut juga diharapkan mampu mempererat solidaritas antara mahasiswa dan masyarakat sipil di Kabupaten Ngawi dalam menjaga nalar kritis di tengah derasnya arus informasi. (TA).
