SeputarKita, Ngawi – Seluruh elemen mahasiswa di Kabupaten Ngawi resmi mendeklarasikan berdirinya Serikat BEM Se-Kabupaten Ngawi dalam Kongres I yang digelar di Aula Institut Agama Islam (IAI) Ngawi. Minggu, 12 April 2026.
Forum tersebut menjadi titik awal konsolidasi baru gerakan mahasiswa sekaligus menetapkan Dimas Aradhea Wibowo sebagai Koordinator Daerah (Korda) periode 2026/2027.
Pembentukan serikat ini menandai berakhirnya keterikatan mahasiswa Ngawi dengan aliansi BEM sebelumnya. Seluruh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) dan Dewan Eksekutif Mahasiswa (DEMA) sepakat untuk keluar dari wadah lama yang dinilai tidak lagi mampu menjalankan fungsi organisasi secara optimal.
Keputusan tersebut diambil setelah berbagai persoalan internal dinilai tidak kunjung terselesaikan. Aliansi lama disebut mengalami krisis kepemimpinan, tidak memiliki struktur yang jelas, serta lemah dalam hal administrasi dan koordinasi antar kampus.
Gelombang perubahan ini bermula dari pengunduran diri BEM Universitas Soerjo pada 10 Maret 2026. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh kampus-kampus lain yang memiliki keresahan serupa terhadap stagnasi gerakan mahasiswa di tingkat daerah.
Puncak konsolidasi terjadi pada 3 April 2026 dalam pertemuan di Sekretariat DEMA STITI KP Paron. Dalam forum tersebut, enam kampus yakni IAI Ngawi, Universitas Soerjo, STITI KP Paron, STAIM Kendal, STKIP Modern, dan STIT Muhammadiyah sepakat membentuk wadah baru yang lebih terstruktur dan independen.
Kesepakatan itu dituangkan dalam Surat Kesepahaman (MoU) Nomor: 001.001/MOU/SBEM-NGW/IV/2026. Melalui dokumen tersebut, Serikat BEM Se-Kabupaten Ngawi ditegaskan sebagai wadah tunggal yang menjunjung tinggi kepastian hukum, tertib administrasi, serta bebas dari intervensi politik praktis.
Dalam Kongres I tersebut, Dimas Aradhea Wibowo terpilih secara musyawarah mufakat dalam Sidang Pleno V sebagai Korda. Ia menegaskan bahwa kepemimpinannya merupakan amanah untuk mengembalikan kepercayaan publik terhadap gerakan mahasiswa.
“Kami keluar dari ketidak jelasan demi membangun kejelasan. Serikat BEM Se-Ngawi lahir karena kami menolak untuk diam dalam organisasi yang stagnan. Hari ini kita buktikan bahwa mahasiswa Ngawi mampu berdaulat, mandiri, dan profesional dalam mengawal isu kerakyatan tanpa intervensi pihak manapun,” ujar Dimas dalam pidato pelantikannya.
Usai pelantikan, kepengurusan baru berkomitmen menyusun Garis Besar Haluan Kerja (GBHK) secara transparan. Serikat ini diharapkan menjadi ruang konsolidasi yang kuat dan menjadi garda terdepan dalam mengawal isu-isu sosial serta memperjuangkan kepentingan masyarakat di Kabupaten Ngawi. (TA).
