Direktur BUMDes Cibiyuk Bantah Narasi Kambing Hilang Misterius, Wibowo Tegaskan Ada Catatan dan Laporan Pertanggungjawaban.
Seputar Kita, Pemalang – Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Makmur Mandiri Desa Cibiyuk, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang, Wibowo, membantah narasi mengenai dugaan hilangnya sejumlah kambing milik BUMDes yang beredar melalui akun TikTok hotnewsupdatebeberapa waktu lalu.
Saat ditemui awak media pada Kamis (22/10/2026), Wibowo menegaskan bahwa penyebutan kambing hilang secara misterius tanpa jejak, tanpa catatan penjualan, maupun tanpa laporan kematian tidak sesuai dengan penjelasan dan catatan pengelolaan yang dimiliki pihaknya.
Menurut Wibowo, pengelolaan kambing tersebut merupakan bagian dari program ketahanan pangan tahun 2025, yang dijalankan BUMDes Makmur Mandiri bersama program di sektor pertanian. Ia menyebut pihaknya memiliki laporan pertanggungjawaban pada tahun pertama pelaksanaan program, termasuk pencatatan terkait peternakan kambing.
“Perlu saya jelaskan bahwa kambing tersebut merupakan bagian dari program ketahanan pangan tahun 2025. BUMDes kami memiliki laporan pertanggungjawaban pada tahun pertama pelaksanaan program, termasuk data yang berkaitan dengan pengelolaan peternakan,” jelas Wibowo.
Kambing Mati, Diklaim Ada Pencatatan dan Pembahasan Musdes.
Menanggapi persoalan jumlah kambing yang dipertanyakan dalam narasi di media sosial tersebut, Wibowo menjelaskan bahwa dalam proses pemeliharaan memang terdapat kambing yang mengalami kematian. Ia menyebut kondisi cuaca dan sejumlah faktor lain selama pemeliharaan sebagai faktor yang memengaruhi kematian ternak.
Namun, menurutnya, kematian kambing tersebut tidak dibiarkan tanpa pencatatan. Wibowo mengaku pihaknya mendokumentasikan data ternak yang mati, membahasnya melalui musyawarah desa (Musdes), serta memasukkannya dalam administrasi pertanggungjawaban BUMDes.
“Jadi, kalau disebut kambing hilang tanpa jejak, narasi itu tidak tepat. Kami memiliki data pertanggungjawaban dan pencatatan terkait pengelolaan ternak,” tegasnya.
Wibowo juga menyampaikan bahwa hingga kini masih ada kambing yang dipelihara oleh BUMDes Makmur Mandiri. Ternak tersebut, kata dia, dirawat hingga mencapai usia yang dinilai layak untuk dijual sesuai dengan perencanaan usaha peternakan.
Pernyataan tersebut menjadi penegasan Wibowo bahwa berkurangnya jumlah kambing akibat kematian ternak tidak serta-merta dapat disimpulkan sebagai kehilangan tanpa pertanggungjawaban. Ia meminta agar informasi mengenai pengelolaan peternakan dilihat secara menyeluruh dengan mengacu pada pencatatan dan laporan yang dimiliki BUMDes.
Minta Informasi Diverifikasi,Bukan Langsung DiSimpulkan.
Wibowo berharap masyarakat, khususnya warga Desa Cibiyuk, tidak langsung menyimpulkan suatu persoalan hanya berdasarkan narasi yang beredar di media sosial. Ia meminta pihak yang memiliki pertanyaan atau informasi terkait pengelolaan BUMDes agar melakukan konfirmasi kepada pengelola sebelum menyebarluaskannya kepada publik.
“Kami berharap apabila ada informasi atau berita mengenai BUMDes yang kami kelola, sebaiknya ditanyakan dan dikonfirmasi terlebih dahulu kepada kami. Kami siap memberikan penjelasan sesuai data yang ada agar tidak menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa pihaknya terbuka untuk memberikan penjelasan mengenai program, perkembangan usaha, maupun laporan pertanggungjawaban BUMDes kepada masyarakat.
Meski demikian, karena program tersebut berkaitan dengan aset dan kepentingan desa, keterbukaan informasi tetap menjadi hal penting. Catatan pemeliharaan, data kematian ternak, hasil musyawarah desa, serta laporan pertanggungjawaban merupakan dokumen yang dapat membantu masyarakat memahami bagaimana program dijalankan.
Klarifikasi Pengelola Perlu Diikuti Keterbukaan Data.
Persoalan pengelolaan kambing BUMDes Cibiyuk menunjukkan pentingnya membedakan antara informasi yang beredar, dugaan yang disampaikan, dan fakta yang dapat dibuktikan melalui dokumen.
Di satu sisi, narasi mengenai kambing yang disebut hilang misterius perlu diuji melalui verifikasi dan konfirmasi kepada pihak terkait. Di sisi lain, penjelasan pengelola mengenai adanya pencatatan dan laporan pertanggungjawaban juga penting untuk diketahui serta dapat ditelusuri berdasarkan dokumen pendukung.
Dengan demikian, klarifikasi Wibowo menjadi bantahan terhadap narasi yang beredar di akun TikTok hotnewsupdate. Adapun untuk memperoleh gambaran yang utuh mengenai pengelolaan ternak, data dan dokumen pertanggungjawaban menjadi bagian penting dalam menjelaskan jumlah kambing, kematian ternak, serta perkembangan usaha peternakan BUMDes.
Seputar Kita Pemalang menempatkan verifikasi, konfirmasi, dan keberimbangan sebagai prinsip dalam pemberitaan. Setiap persoalan yang berkaitan dengan aset desa perlu mendapat perhatian serius, tetapi penilaian terhadap persoalan tersebut harus tetap bertumpu pada fakta dan bukti yang dapat diperiksa.(FN)
