Proyek Jalan Sentul–Kesamben Rp1,1 Miliar Disorot, Pasangan Batu Dikerjakan Saat Air Mengalir

0
IMG-20260910-WA0087

Seputarkita,JOMBANG, — Pekerjaan rekonstruksi Ruas Jalan Sentul–Kesamben (PIK) di Kecamatan Tembelang, Kabupaten Jombang, senilai Rp1.128.760.000 dari APBD 2026 mendapat sorotan.

 

Sorotan muncul setelah Tim Redaksi menemukan pekerjaan pasangan batu untuk dinding penahan dilakukan di sisi saluran yang masih basah dan dialiri air.

 

Proyek tersebut dikerjakan CV Alexandra SPA dengan konsultan pengawas CV Mega Perkasa. Saat ini pekerjaan masih berlangsung.

 

Kondisi di lapangan memunculkan pertanyaan mengenai metode pelaksanaan, mutu pekerjaan, penerapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta pengawasan proyek.

 

Tim Redaksi menemukan pekerjaan pasangan batu dilakukan di lokasi dengan kondisi air masih mengalir pada Kamis (10/9/2026).

Secara teknis, kondisi tersebut perlu mendapat penjelasan dari pelaksana maupun pengawas proyek. Terutama mengenai bagaimana air dikendalikan selama pemasangan pasangan batu dan apakah metode tersebut sesuai dengan spesifikasi serta metode kerja dalam kontrak.

 

Pemasangan Batu di Tengah Aliran Air

 

Seorang pemborong di Jombang yang melihat dokumentasi pekerjaan menilai kondisi tersebut perlu menjadi perhatian pengawas.

 

Menurut dia, pekerjaan pasangan batu yang menggunakan campuran semen membutuhkan kondisi pelaksanaan yang mendukung proses pengerasan.

 

Ia juga menyoroti informasi mengenai penggunaan campuran semen dan pasir dengan perbandingan 1:5 atau 1:6.

 

Menurut pemborong tersebut, perbandingan itu merupakan campuran minimal dan, dalam penilaiannya, termasuk campuran dengan kualitas paling rendah untuk pekerjaan pasangan batu.

 

> “Kalau 1:5 atau 1:6 itu menurut saya campuran minimal, bahkan yang paling jelek. Artinya semen yang digunakan lebih sedikit dibanding material pasirnya,” ujarnya.

 

Namun, ia mengakui penilaian tersebut tetap harus dikaitkan dengan jenis pekerjaan dan spesifikasi teknis yang berlaku.

 

Menurutnya, persoalan menjadi lebih serius ketika campuran tersebut diterapkan pada lokasi yang masih terdapat aliran air.

 

> “Kalau mengerjakannya seperti itu, usia bangunan akan cepat rusak. Karena air masih mengalir, sedangkan pemasangannya menggunakan semen. Kalau air sungainya masih mengalir seperti itu, otomatis semen bisa larut dalam air,” ujarnya.

 

Ia menilai kondisi lapangan tidak bisa dipisahkan dari kualitas pekerjaan.

 

> “Kalau campuran semen 1:5 atau 1:6 memang sesuai RAB atau dokumen teknis, itu memang harus dilihat lagi untuk jenis pekerjaannya. Tetapi kondisi lapangannya juga harus diperhatikan,” katanya.

 

Menurut dia, kondisi tanah dan aliran air semestinya menjadi pertimbangan dalam menentukan metode pelaksanaan.

 

> “Kalau tanah sudah basah dan air masih mengalir, metode pelaksanaannya harus diperhatikan. Jangan sampai air mengganggu proses pengerasan pasangan,” ujarnya.

 

Penilaian tersebut merupakan pandangan seorang pemborong berdasarkan dokumentasi pekerjaan yang dilihatnya. Walaupun pendapat itu belum dapat dijadikan kesimpulan bahwa campuran yang digunakan tidak memenuhi standar atau pekerjaan dipastikan mengalami kegagalan mutu.

 

Untuk memastikan hal tersebut, diperlukan pemeriksaan terhadap dokumen kontrak, spesifikasi teknis, komposisi campuran, material yang digunakan, serta metode pelaksanaan di lapangan.

 

Pelaksana: Kami Mengikuti Spesifikasi

 

Perwakilan pelaksana di lapangan, Dani, mengatakan pekerjaan dilakukan berdasarkan dokumen teknis yang menjadi acuan proyek.

 

Terkait campuran pasangan batu, ia menyebut pihaknya mengikuti spesifikasi yang ditetapkan.

 

> “Spesifikasinya kalau pasangan memang 1:5 atau 1:6, sesuai dokumen dari konsultan perencana. Kita hanya mengikuti apa yang tertera,” kata Dani saat ditemui Tim Redaksi di lokasi.

 

Pernyataan tersebut menempatkan persoalan pada dokumen teknis proyek.

 

Jika benar komposisi tersebut tercantum dalam spesifikasi, yang perlu dipastikan berikutnya adalah apakah campuran di lapangan benar-benar sesuai dan apakah metode pemasangan pada kondisi saluran yang masih dialiri air juga telah sesuai ketentuan.

 

Sebab, spesifikasi campuran dan metode pelaksanaan merupakan dua hal yang berbeda.

 

Di sinilah peran konsultan pengawas menjadi penting untuk memastikan pekerjaan yang dilakukan penyedia tidak hanya sesuai dokumen, tetapi juga sesuai kondisi dan metode pelaksanaan yang dipersyaratkan.

 

APD Pekerja Belum Optimal

 

Selain pekerjaan konstruksi, penerapan K3 juga menjadi perhatian.

 

Saat Tim Redaksi berada di lokasi, sejumlah pekerja terlihat belum menggunakan perlengkapan keselamatan secara lengkap. Padahal, pekerjaan dilakukan di sekitar saluran air dan area kerja yang memiliki risiko keselamatan.

 

Dani mengakui penggunaan alat pelindung diri (APD) oleh pekerja belum sepenuhnya optimal.

 

> “Kondisi pekerja kadang tidak mau memakai APD. Yang dipakai biasanya hanya rompi. Ada satu dua orang yang memakai sepatu dan helm,” ujarnya.

 

Keterangan tersebut menunjukkan bahwa persoalan K3 bukan semata soal tersedia atau tidaknya APD, tetapi juga bagaimana penggunaannya diawasi.

 

Pihak pelaksana maupun pengawas perlu memastikan pekerja menggunakan perlengkapan keselamatan sesuai risiko pekerjaan.

 

Mandor Disebut Tak Selalu di Lokasi

 

Persoalan pengawasan juga muncul dari keterangan Dani mengenai keberadaan mandor.

 

Menurut Dani, mandor proyek tidak selalu berada di lokasi Jalan Sentul–Kesamben karena juga berkeliling ke proyek lain.

 

Keterangan mengenai mandor tersebut merupakan informasi dari Dani selaku pelaksana lapangan saat ditemui Tim Redaksi, dan masih perlu dikonfirmasi kepada pihak terkait.

 

Yang perlu dipastikan bukan semata-mata apakah mandor harus berada di lokasi sepanjang waktu, melainkan bagaimana pengawasan pekerjaan tetap berjalan ketika personel tersebut tidak berada di lokasi.

 

Terlebih, pada saat yang sama terdapat pekerjaan pasangan batu di area yang masih dialiri air dan penerapan K3 yang menurut pengakuan pelaksana belum optimal.

 

Status mandor tersebut juga perlu diperiksa melalui dokumen kontrak. Apakah yang bersangkutan merupakan personel yang dipersyaratkan dalam kontrak, bagaimana kewajiban kehadirannya, dan apakah diperbolehkan menangani pekerjaan lain secara bersamaan.

 

Pengawasan Jadi Titik Penting

 

Dengan nilai proyek mencapai lebih dari Rp1,1 miliar, pengawasan menjadi bagian yang tidak bisa dianggap sekadar formalitas.

 

Pekerjaan masih berlangsung. Artinya, jika ditemukan persoalan teknis atau K3, masih tersedia kesempatan untuk melakukan perbaikan.

 

Dinas PUPR Jombang melalui PPK dan konsultan pengawas perlu memastikan setidaknya beberapa hal.

 

Pertama, apakah pemasangan pasangan batu pada lokasi yang masih terdapat aliran air sesuai metode kerja proyek.

 

Kedua, bagaimana pengendalian air dilakukan selama pekerjaan berlangsung.

 

Ketiga, apakah komposisi campuran 1:5 atau 1:6 memang tercantum dalam spesifikasi teknis.

 

Keempat, bagaimana pengawas memastikan campuran yang digunakan di lapangan sesuai ketentuan.

 

Kelima, bagaimana penerapan K3 dan penggunaan APD diawasi.

 

Keenam, bagaimana status dan kewajiban kehadiran mandor yang disebut juga menangani proyek lain.

 

Jawaban tersebut penting karena proyek ini menggunakan APBD 2026. Publik berkepentingan memastikan pekerjaan yang dibiayai uang negara tidak hanya selesai secara administratif, tetapi juga memiliki kualitas yang sesuai dengan nilai kontraknya.

 

Masih Ada Waktu untuk Memastikan

 

Sorotan terhadap proyek Jalan Sentul–Kesamben belum bisa dijadikan kesimpulan bahwa telah terjadi pelanggaran atau kegagalan konstruksi.

 

Namun, temuan di lapangan dan keterangan pelaksana cukup menjadi alasan bagi pihak terkait untuk melakukan pemeriksaan.

 

Apalagi pekerjaan masih berjalan.

 

Jika metode pekerjaan telah sesuai, penjelasan teknis dari PPK dan konsultan pengawas dapat menjawab keraguan yang muncul. Sebaliknya, apabila ditemukan ketidaksesuaian, koreksi masih bisa dilakukan sebelum pekerjaan selesai.

 

Pada akhirnya, yang dibutuhkan bukan sekadar pernyataan bahwa proyek berjalan sesuai spesifikasi.

 

Yang lebih penting adalah memastikan spesifikasi itu benar-benar diterapkan di lapangan.

 

Dengan nilai kontrak Rp1.128.760.000, pengawasan proyek Jalan Sentul–Kesamben menjadi bagian penting untuk memastikan uang publik menghasilkan infrastruktur yang aman, bermutu, dan dapat digunakan dalam jangka panjang.(Tim)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *