Ziarah 7 Makam Leluhur Pendiri dan Pemimpin Magetan

Bupati Magetan Suprawoto bersama Forkopimda saat Ziarah di makam Nrang Kusumo di Sentono Bulu Kelurahan Bulukerto

Magetan, Seputarkita – Cerita babad Magetan diyakini sebagai sejarah yang terjaga dan terlestarikan hingga sekarang. Hal tersebut dalam cerita itu nama Ki Ageng Mageti, sosok berpengaruh di Magetan pada akhir tahun 1650, Ki Ageng Mageti menjadi rujukan asal usul nama kabupaten Magetan.

Makam Ki Ageng Mageti di Jalan Basuki Rahmat sisi utara, tepat di pinggir Sungai Gandong yang ditanggul setinggi lebih dari 20 meter. Makam itu selalu menjadi rujukan pertama dalam ziarah leluhur yang dilakukan Pemkab Magetan menjelang Hari Jadi Kabupaten Magetan, 12 Oktober.

Bupati Magetan, Dr Suprawoto, SH, MSi, membayangkan para leluhur membangun Magetan di masanya sebagaimana yang diharap sekarang.

“Harapannya adalah aman, tenteram, loh ji nawi. Kalau komitmen Bupati tempo dulu yang dilawan adalah penjajah. Nah, komitmen bupati sekarang yang dilawan adalah bagaimana kita bisa mencari jatidiri,”ucap Bupati Suprawoto saat ziarah ke tujuh makam leluhur Magetan.

Ketujuh makam leluhur itu terletak berpencar. Selain makam Ki Ageng Mageti, rombongan Bupati Magetan yang diiringi Forkopimda juga ziarah ke makam Adipati Yosonegoro atau Raden Tumenggung Yosonegoro, Bupati Magetan kali pertama, menjabat tahun 1675-1703, di komplek makam Astono Gedong.
Di masa pemerintahan Adipati Yosonegoro ini, Kabupaten Magetan memproklamasikan dirinya sebagai wilayah yang berkuasa penuh tepat pada 12 Oktober 1675 dengan sasanti bertajuk “Manunggaling Rasa Saka Ambangun”.

Leluhur Magetan yang lain adalah Nrang Kusumo, kerabat Mataram putera Kanjeng Gusti Susuhunan IV, yang dimakamkan di Sentono Bulu. Dalam legenda disebutkan Nrang Kusumo adalah pembela rakyat, pembela kebenaran dengan memusuhi Belanda.

Sosok perempuan satu-satunya yang menjadi leluhur Magetan adalah Gusti Putri Madu Retno. Makamnya terletak di Giri Purno, Gunung Bancak. Putri Madu Retno isteri R. Ronggo Prawirodirdjo III, Adipati Maospati, yang didampingi Putri Madu Retno dengan gagah berani mengusir Belanda dari wilayah Kadipaten Maospati.

Leluhur Magetan lainnya adalah RM Aryo Kertonegoro, Bupati Magetan ke-9 yang memerintah pada tahun 1837-1852. Makamnya di komplek makam Sasono Mulyo, Sawahan, Keplorejo. Di komplek makam ini terdapat pula makam Bupati Magetan ke-10 RMA Adipati Suradiningrat III (1852-1887), yang merupakan menantu RM Aryo Kertonegoro. Juga terdapat makam Bupati Magetan ke-11 RMA Kerto Hadi Negoro (1889-1912) dan juga makam Bupati Magetan ke-15 RM Tumenggung Suryo (1938-1943).

Sedangkan di komplek makam Pacalan, Kecamatan Plaosan, terdapat makam leluhur, Ki Ageng Kembang Sore, guru Adipati Purwodiningrat. Juga Kyai Ambarsari, Kyai Wongso, Kyai Sari Wongso, yang ketiganya sahabat Ki Ageng Kembang Sore.

Bupati Magetan yang dimakamkan di sini adalah Bupati ke-6, Kyai Adipati Purwodiningrat (1755-1790), bupati ke-7, RMT Sosrodipuro (1790-1825), bupati ke-8, RMT Sosrowinoto (1825-1837), yang adik kandung RMT Sosrodipuro.

Makam ketujuh yakni komplek makam R. Ronggo Galih Tirtokusumo, di Desa Durenan, Kecamatan Sidorejo. Bupati Suprawoto menegaskan bahwa Ronggo Galih adalah bupati Magetan ke-2 yang memerintah tahun 1703-1709.

Suprawoto adalah Bupati Magetan ke-33 yang terpilih dalam Pilkada 2018-2023. Menurutnya, para kepala daerah di masa lalu adalah pribadi yang berdedikasi untuk rakyat.

“Mereka tidak suka dengan penjajahan. Karena itu, para kepala daerah di masa lalu adalah membebaskan rakyatnya dari penjajah Belanda,”Suprawoto.

Lanjut Suprawoto dalam tradisi hingga sekarang yang dilakukan para bupati yang paling beda ada di Makam R. Ronggo Galih Tirtokusumo, sebelum melakukan doa bersama bupati membagikan Kreweng (kepingan uang yang terbuat dari tanah) dengan nilai perkeping uang sekarang Rp. 3.000,- (tiga ribu rupiah).

“Bagi yang mendapatkan kepingan kreweng bisa dibelanjakan di pasar krempyeng dilingkungan makam R. Ronggo Galih Tirtokusumo dan ini tidak berlaku diluar lingkungan makam R. Ronggo Galih Tirtokusumo, karena Kreweng sebenarnya pada jaman dahulu ketika uang belum ada, masyarakat melakukan barter atau pertukaran barang, dan pada jaman dahulu terdapat kepingan emas, perak, dan yang paling rendah itu kreweng untuk melakukan barter atau pertukaran barang tepatnya sebagai simbul alat tukar,”pungkas Bupati Suprawoto.(Red)

Check Also

Operasi Patuh Semeru 2024 di Gresik, Bersama Tingkatkan Keselamatan Berlalu Lintas

Operasi Patuh Semeru 2024 di Gresik, Bersama Tingkatkan Keselamatan Berlalu Lintas

  SeputarKita, Gresik – Apel Operasi Patuh Semeru 2024 yang dipimpin Wakapolres Gersik Kompol Danu …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *