Tuntut Presiden Tangkap Dalang Kerusuhan Wamena, GUIB Magetan Geruduk Kantor DPRD

GUIB Magetan saat menggelar aksi didepan kantor DPRD Magetan

MAGETAN, SEPUTARKITA – Ratusan ummat muslim yang tergabung dalam Aksi Solidaritas Wamena, yang dimotori oleh Gerakan Ummat Islam Bersatu (GUIB) Kabupaten Magetan, usai shalat jum’at (04/10/2019) mendatangi Kantor DPRD setempat. Mereka mengaku kecewa kepada pemerintah yang terkesan absen dalam penanganan kerusuhan di Wamena, Papua. Apa yang telah dilakukan oleh para perusuh telah melanggar HAM dan merugikan rakyat jelata. Tercatat ratusan pendatang yang mayoritas beragama Islam luka-luka, bahkan 31 diantaranya dinyatakan meninggal dunia  dalam keadaan mengenaskan, ada yang dibakar, tertusuk panah, terkena tusukan atau sabetan benda tajam dan pukulan benda tumpul. Belum lagi hancurnya sejumlah fasilitas umum, rumah, tempat usaha, kendaraan dan lainnya. Tak terkira berapa kerugian yang dialami, yang nyata lebih dari 6000 orang yang selamat dari kerusuhan tersebut, dengan penuh rasa takut terpaksa meninggalkan papua, pulang ke daerah masing masing.

Dari keadaan yang mengenaskan tersebut, GUIB menuntut  Presiden Joko Widodo untuk segera menuntaskan kasus kerusuhan di Papua. “Kami mewakili ummat Islam Magetan menuntut agar pemerintah dan aparat keamanan segera menangkap aktor intektual dan seluruh pelaku kerusuhan Papua, khususnya para perusuh Wamena. Kalau tidak bisa penuhi tuntutan ini lebih baik Presiden mundur dari jabatannya,” ujar Ustadz Imam Yudhianto, SH MM, Ketua GUIB Magetan.

Aksi solidaritas untuk Wamena ini, diikuti oleh berbagai elemen organisasi masyarakat, dan sebagian pondok pesantren yang ada di kabupaten Magetan. Nampak hadir para santri dari Ma’had Aliy Al Fatih, Hidayatullah, Ar Rosyidah, Al Muslimun, Cokrokertopati Takeran Daarul Wahyain, Ibadurrahman, Al Ikhlash, Darul Ulum, juga beberapa personil KOKAM, Sintek Sajail, Pemuda Muhammadiyah, Ikatan Pelajar Muhammadiyah, Ormas OI Bersatu, FKAM, Madina, Dewan Dakwah Islamiyyah, IKADI serta elemen lainnya, dari unsur ta’mir / DKM masjid mushola yang menjadi binaan GUIB Magetan.

GUIB Magetan saat menggelar aksi didepan kantor DPRD Magetan

Ustadz Imam yang juga Kader Muda Muhammadiyah Magetan mengatakan, bahwa pelaku kerusuhan dan pembunuhan muslim di Wamena dan Jayawijaya telah melanggar HAM berat. Dan sangat disayangkan kejadian tersebut seolah dibiarkan oleh pemerintah. Padahal kalau pemerintah mau mencegah terjadi kasus pembantaian tersebut tentu bisa dilakukan. Pemerintah punya perangkat intelijen seperti BIN, Bais dan Intel Kepolisian untuk mencegah kerusuhan dan pembunuhan tersebut. “Salah satu tugas intelijen adalah melakukan pengumpulan bahan keterangan terhadap kondisi yang akan terjadi. Nah dalam kasus ini kok sampai intelijen nggak tahu, kan aneh ya, apalagi sebelum kejadian pembantaian itutelah terjadi demo besar-besaran, dan sudah isu rasisme sudah mencuat saat demonstarasi itu,” ujat Imam.

Dalam orasinya yang penuh semangat itu, Imam menyerukan jihad ke Papua, “Disini kita menuntut tegaknya keadilan, para Guru Ngaji, para Da’i, saudara saudara kita sesama muslim di Papua telah tertumpah darahnya, kalau memang pemerintah sudah tidak mampu mengatasi kondisi ini, kita siap jihad ke Papua. Siapkah saudara saudara berangkat jihad ke papua?” seru Imam yang disusul dengan pernyataan siap dari seluruh peserta aksi.

Gagalnya penanganan kasus kerusuhan ini telah membuktikan bahwa Presiden dan perangkat pemerintahannya tidak mampu lagi memberi perlindungan keselamatan hidup dan kenyamanan kepada rakyatnya bahkan terkesan ada pembiaran.”Sudah mafhum bahwa tugas pemerintah sesuai undang undang adalah melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia. Saya yakin kalau kejadian ini terjadi di Jepang, Perdana Menteri dan jajarannya pasti akan mengundurkan diri dari jabatan, sebab rasa malu karena gagal melindungi rakyatnya,” imbuhnya.

GUIB Magetan saat menggelar aksi didepan kantor DPRD Magetan

Intinya dalam islam kita mengenal konsep Isy Kariman Au Mut Syahidan, Hidup Mulia atau Mati Syahid, jadi tidak ada istilah berpangku tangan dan takut mati ketika saudara kita yang terdzolimi meminta pertolongan kepada kita” ujar Imam kemudian disusul takbir berkali-kali oleh peserta Aksi.

Koordinator Laskar GUIB Magetan, Ustadz Taufan, dalam orasinya menekankan agar pemerintah segera melakukan pemulihan kondisi di Wamena dengan pendekatan humanis kepada para korban, dan melakukan investigasi dan penegakan hukum kepada para pelaku kerusuhan dan pembunuhan. Menurutnya lemahnya penegakan hukum atau penegakan hukum yang berlebihan akan berdampak kepada stabilitas keamanan negara dan memicu konflik horizontal. Pemerintah harus tepat dalam bertindak agar tidak terulang lagi kejadian seperti ini. “Kita harus menegakkan hukum, agar keadilan bisa dirasakan oleh semua pihak” ujarnya.

Tepat pukul 15.00 WIB para peserta aksi solidaritas wamena membubarkan diri. Aksi ini ditutup dengan penggalangan dana solidaritas untuk wamena, dan doa bersama yang dipandu oleh Ustadz Abu Yusuf Al Magetani. “Semoga Allah mengampuni semua dosa dan kesalahan para korban, menerima semua amal solehnya, menjaga keselamatan keluarganya, dan senantiasa menyatukan kaum muslimin untuk tegaknya agama,” untai Abu Yusuf dalam doanya. (Red).

Check Also

Kapolres Sampang Pimpin Langsung Apel Gelar Patuh Semeru Tahun 

Kapolres Sampang Pimpin Langsung Apel Gelar Patuh Semeru Tahun 

  SeputarKita, Sampang – Kapolres Sampang AKBP Siswantoro S.IK, MH, Memimpin apel gelar pasukan Operasi …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *